http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2008/08/indo-63th-300x287.jpg
tangal 17 agustus adalah hari paling sejarah bagi bangsa indonesia karena semua warga bangsa indonesia memperingati HUT RI, dimana-mana setiap tanggal 17 agustus selalu dimeriahkan dengan acara lomba-lomba dan juga bazar walaupun hanya di selenggarakan satu tahun sekali namun orang-orang antusias apalagi dengan acara lombanya. Di kampung saya setiap RT menyelenggarakan lomba dan setiap RW menyelenggarakan bazar, di RT saya banyak mengadakan lomba-lomba contohnya seperti balap karung, lomba kelereng, sepak bola, voli dll. Teman-teman saya banyak sekali yang ikut sampai-sampai ada anak kecil yang mau ikut lomba sepak bola orang dewasa, saat lomba balap karung saya mengikuti lomba itu karena saya ingin mencobanya dan ingin bersaing dengan teman-teman saya yang lain. Di sekolah saya juga tidak ketinggalan karena sekolahan saya juga menyelenggarakan banyak lomba dan lomba yang paling saya sukai adalah lomba band, saya suka lomba band karena saya sangat gemar bermain gitar dan saya ingin berantusias dalam sekolahan saya agar semakin banyak anak yang kenal dengan saya. sebelum lomba teman-teman satu band saya sangat semangat dan band saya pun banyak latihan agar penampilan kami maksimal saat lomba, setiap hari saya ke studio untuk latihan sampai akhirnya lomba band pun dimulai. ketika band kami datang di lomba band kami sangat grogi tetapi setelah melihat peserta yang lain band kami pun tidak grogi lagi dan kami semangat menghadapi apapun walaupun menang atau kalah kami tetap senang. saat pengumuman lomba dibacakan kami sangat takut kalau band kami tidak lolos dan akhirnya nama band kami di panggil oleh panitia untuk bisa menampilkan lagu di sekolah dan kami sangat-sangat senang akhirnya kerja keras kami berhasil dengan sukses. Saat diselenggarakannya lomba band saya di beri semangat oleh teman-teman sekelas dan kami pun semakin semangat karena banyak yang mendukung band saya, ketika bermain di panggung band kami bermain dengan maksimal dan banyak anak-anak yang suka, tetapi Band kami gagal memenangkan lomba tersebut karena yang memenangkan juara satu sampai tiga adalah kakak-kakak kelas dan band kami senang walaupun tidak menang. Walaupun kami kalah tapi teman-teman kami memuji kerja keras kami dan ada juga guru yang juga memuji. Saya merasa lomba tahun ini adalah lomba yang paling menarik dengan lomba-lomba yang saya ikuti di sekolah maupun di kampung karena semangat kemerdekaan yang selalu ada di tubuh saya.

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

Bulan ramadhan tahun ini aku sangat senang sekali karena aku bisa berpuasa penuh walaupun banyak goda'an namun dalam hati ku "aku harus bisa memenangkan bulan amadhan ini" oleh sebab itu aku bisa berpuasa satu bulan penuh. Saat-saat paling menyusahkan adalah saat pulang sekolah, karena pada saat bulan ramadhan kemarin SMA N 11 pulangnya jam 12 siang apa lagi di jalan raya sangat panas sekali dan di jalan banyak orang-orang jualan tetapi aku tetap bertahan dan tidak menghiraukan. Sesampainya di rumah aku sholat dzuhur dulu dan langsung tidur sampai sore, setiap hari aku selalu melakukan hal itu mangkannya aku bisa kuat menahan lapar dan haus.